Jadilah Orang Lain yang Seperti Saudara Sendiri

Pernah dengar, ada orang yang bilang, lebih nyaman hidup dengan orang lain yang seperti saudara daripada hidup bersama saudara yang kenyataannya seperti orang lain.

Mengapa bisa terjadi, saudara tapi seperti orang lain?

Saudara itu hanya ikatan darah. Namun, sikap, tabiat, dan tingkah laku sehari-harinya tidak mencerminkan kedekatan layaknya saudara.

Seharusnya, dengan saudara, kamu bisa merasa lebih nyaman karena tidak ada lagi keinginan untuk jaga image alias jaim atau gengsi. Tapi, kadang-kadang kenyataan berbicara sebaliknya. Kamu kurang nyaman bersamanya karena dia selalu jaim. Dia tidak mau terang-terangan bahwa kehidupannya sedang berantakan, misalnya. Dia ingin selalu tampak hebat di depanmu. Dia tidak mau mengharap pertolonganmu meskipun kesusahan, karena gengsi tinggi masih bercokol di hatinya.

Kamu pun akhirnya memilih untuk tidak mengganggunya lagi karena sikapnya yang seperti tak tersentuh oleh hati. Kamu menghargai privacy-nya. Menghormati sikapnya dan tidak ingin mengungkapkan padanya bahwa sikap-sikap itu membuatmu tidak nyaman.

Kamu malah lebih nyaman berdampingan dengan tetangga, misalnya. Tetangga yang sebenarnya jarang berkomunikasi denganmu karena kamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk sibuk di kantor, ternyata lebih perhatian. Tanpa pamrih, tetangga membantu mengangkat dan menyimpan jemuranmu ketika hujan deras turun tiba-tiba. Tetangga menawarkan merawat anakmu ketika kamu tergolek di rumah sakit. Tetangga menawarkan menjemput anakmu dari sekolah ketika kamu kebingungan karena angkitan jemputannya tidak bisa hadir, dan kamu tidak bisa ambil cuti dari kantor.

Pada saat itu, kamu merasakan hatimu nyaman. Kamu bersyukur atas semua kebaikan orang lain yang menjadi seperti saudara sendiri.

Sekarang, tugas kamu adalah, membuat orang lain merasa bahwa kebaikanmu sudah seperti saudara sendiri.

Banyak cara untuk menjadi seperti itu, asalkan kamu punya niat. Sebab, untuk menjadi baik itu tidak perlu syarat yang sulit.